
Nikah sambil kuliah, konon adalah impian hampir setiap aktivis dakwah kampus.
Tengok saja : wacana diskusi yang acap diperbincangkan oleh kaum prianya adalah
menikah. Tengok pula aktivitas yang kerap dikaryakan kaum puterinya : memasak,
menjahit, dan praktek kegiatan rumah tangga lainnya. Di dalam bayangan kita,
jika kita menikah, maka akan bermekaranlah bunga-bunga di beranda rumah kita.
Akan ada partner diskusi, kita tidak single fighter lagi, akan ada komunikasi
yang harmonis, akan terjaga hati kita. Dalam hal yang satu ini, kaum pria
berbalik mengandalkan perasaan, dan wanitanya mengandalkan rasionalitas. Dengan
dorongan jiwa muda plus perintah agama, -mahasiswa menikah. Itulah idealnya.
Unsur ideologis amat kental terasa. Akhirnya menikah sambil kuliah menjadi
mitos yang asyik untuk diimpikan dan diperbincangkan. Dengan menikah, maka
segalanya -apapun itu -akan dapat dituntaskan, dengan bantuan Allah. Pendek
kata, menikah adalah solusi, semua akan beres. Akhirnya, menikah ketika kuliah
menjadi “Sang Penyelamat”. Setidaknya itu yang ada dalam alam pemikiran
sebagian mahasiswa yang saya tahu.
Ternyata pemikirannya tidaklah sesederhana itu. Menikah mungkin bisa menjadi
sebuah solusi dan menjawab berbagai persoalan. Tetapi bisa jadi ia malah
menjadi persoalan baru. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, selain
semangat ideologis.
Yang pertama kali harus dilakukan adalah proses demitologisasi, menempatkan
kembali posisi ‘Nikah Sambil Kuliah’ dari mitos menjadi normal kembali.
Meninjau ulang batasan arti dari menikah itu sendiri menjadi obyektif,
rasional, dan realistis. Setelah kita kembali bisa berfikir jernih, utuh, dan
sehat, barulah kita bisa kembali ke persoalannya: merumuskan masalah,
menimbang-nimbang, dan kemudian mengambil keputusan. Kita tengok sejenak SWOT
(Strength, Weakness, Oportunity, Threath) dan kita lihat 5W+1H (Why, When, Who,
What, Where, How). Kemudian adalah sholat istikharah, doa, sabar, dan akhirnya
tawakal. Jangan lupa faktor ridho orang tua, persiapan mental, persiapan
finansial, persiapan menghadapi setiap kendala persoalan di kemudian hari,
menjadi unsur terpenting dalam pengambilan keputusan.
Terakhir, seseorang yang sudah menikah pernah menasehatiku, “Saya kagum dengan
anak-anak muda yang berani mengorbankan kebebasannya –dalam hal berkumpul dan
berdiskusi dengan kawan-kawannya, bersantai-santai belajar dan membaca buku,
dan pulang ke rumah semaunya tanpa aturan yang jelas untuk menikah. Kita harus
bekerja mencari uang. Tetapi ternyata tidak semudah itu saja. Kita harus siap
bangun di gulitanya malam, ketika sang bayi ‘memanggil’, dan kita harus
menyediakan susu kalengnya yang habis seminggu sekali, dan kamu pikir berapa
biaya persalinannya? Belum lagi kalau kamu mengmban tugas menjadi ketua ini,
panitia itu, atau seminar anu. Nah sudahkah kamu memikirkan semua ini?”
Nah…..sudahkah Anda juga memikirkan hal itu?…….

(Seperti yang dituturkan oleh Ekky al Malaky dan diedit oleh Zakia Lutfiyani)
pengirim artikel ini adalah seseorang yang memiliki saudara yang menikah saat
kuliah.
buat konsultasi hub: 081284756674
izin share gambar
BalasHapushttp://kumpulankonsultasi.blogspot.com/