Minggu, 19 September 2010

Membongkar Mitos Nikah Sambil Kuliah

Nikah sambil kuliah, konon adalah impian hampir setiap aktivis dakwah kampus. 
Tengok saja : wacana diskusi yang acap diperbincangkan oleh kaum prianya adalah 
menikah. Tengok pula aktivitas yang kerap dikaryakan kaum puterinya : memasak, 
menjahit, dan praktek kegiatan rumah tangga lainnya. Di dalam bayangan kita, 
jika kita menikah, maka akan bermekaranlah bunga-bunga di beranda rumah kita. 
Akan ada partner diskusi, kita tidak single fighter lagi, akan ada komunikasi 
yang harmonis, akan terjaga hati kita. Dalam hal yang satu ini, kaum pria 
berbalik mengandalkan perasaan, dan wanitanya mengandalkan rasionalitas. Dengan 
dorongan jiwa muda plus perintah agama, -mahasiswa menikah. Itulah idealnya.

Unsur ideologis amat kental terasa. Akhirnya menikah sambil kuliah menjadi 
mitos yang asyik untuk diimpikan dan diperbincangkan. Dengan menikah, maka 
segalanya -apapun itu -akan dapat dituntaskan, dengan bantuan Allah. Pendek 
kata, menikah adalah solusi, semua akan beres. Akhirnya, menikah ketika kuliah 
menjadi “Sang Penyelamat”. Setidaknya itu yang ada dalam alam pemikiran 
sebagian mahasiswa yang saya tahu.

Ternyata pemikirannya tidaklah sesederhana itu. Menikah mungkin bisa menjadi 
sebuah solusi dan menjawab berbagai persoalan. Tetapi bisa jadi ia malah 
menjadi persoalan baru. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, selain 
semangat ideologis.

Yang pertama kali harus dilakukan adalah proses demitologisasi, menempatkan 
kembali posisi ‘Nikah Sambil Kuliah’ dari mitos menjadi normal kembali. 
Meninjau ulang batasan arti dari menikah itu sendiri menjadi obyektif, 
rasional, dan realistis. Setelah kita kembali bisa berfikir jernih, utuh, dan 
sehat, barulah kita bisa kembali ke persoalannya: merumuskan masalah, 
menimbang-nimbang, dan kemudian mengambil keputusan. Kita tengok sejenak SWOT 
(Strength, Weakness, Oportunity, Threath) dan kita lihat 5W+1H (Why, When, Who, 
What, Where, How). Kemudian adalah sholat istikharah, doa, sabar, dan akhirnya 
tawakal. Jangan lupa faktor ridho orang tua, persiapan mental, persiapan 
finansial, persiapan menghadapi setiap kendala persoalan di kemudian hari, 
menjadi unsur terpenting dalam pengambilan keputusan.

Terakhir, seseorang yang sudah menikah pernah menasehatiku, “Saya kagum dengan 
anak-anak muda yang berani mengorbankan kebebasannya –dalam hal berkumpul dan 
berdiskusi dengan kawan-kawannya, bersantai-santai belajar dan membaca buku, 
dan pulang ke rumah semaunya tanpa aturan yang jelas untuk menikah. Kita harus 
bekerja mencari uang. Tetapi ternyata tidak semudah itu saja. Kita harus siap 
bangun di gulitanya malam, ketika sang bayi ‘memanggil’, dan kita harus 
menyediakan susu kalengnya yang habis seminggu sekali, dan kamu pikir berapa 
biaya persalinannya? Belum lagi kalau kamu mengmban tugas menjadi ketua ini, 
panitia itu, atau seminar anu. Nah sudahkah kamu memikirkan semua ini?”

Nah…..sudahkah Anda juga memikirkan hal itu?…….
(Seperti yang dituturkan oleh Ekky al Malaky dan diedit oleh Zakia Lutfiyani)
pengirim artikel ini adalah seseorang yang memiliki saudara yang menikah saat 
kuliah.
buat konsultasi hub: 081284756674

1 komentar: